Mengenai Saya

Foto Saya
Sentani, Jayapura, Indonesia
I belong to God. He has been redeem and forgive of all my sins. He has change me from who i was to who i'm now so.. it's only by His grace--> By using this blog, I want to share how great is God's grace in my life. I also want to share how does He lead and mold me to be more Christ-like each day.

Kamis, 19 April 2012

PRAGMATISME DAN PENDIDIKAN KRISTEN



Analisis bab 4 dari buku Philosophical Foundations of Education
(Howard A.Ozmon dan Samuel M Craver)


Sesungguhnya teori pragmatisme terlihat sangat baik. Terutama dalam dunia pendidikan saat ini. Salah satu contohnya terlihat dalam metode pengajaran yang berbasis student center seolah-olah sangat efektif dalam kemajuan dunia pendidikan. Namun setelah diteliti lebih lanjut sesungguhnya pandangan ini bertentangan Kekristenan. Sehingga pendidikan Kristen tidak mungkin menerima gagasan dan padangan pragmatismeee. (Namun tidak dapat dipungkiri pendidikan dipengaruhi pandangan tersebut, menurut George R Knight, kita dapat memilih mengunakan padangan tersebut namun  kesesuaian tersebut harus ditentukan dari perspektif Kristen.) Beberapa penyebab ketidakmungkinan hal ini adalah sebagai berikut:
Menurut George R Knight, pendidikan Kristen harus dibangun di atas sebuah pandangan Kristen mengenai realitas (Knight, 2009). Tuhan adalah realitas sentral yang menjadi dasar atas segala sesuatu (Rom 1:20). Segala sesuatu ada karena Allah ada. Sedangkan pendidikan pragmatismeee adalah humanis (human center) dimana manusia mejadi patokan dalam segala sesuatu. Pengetahuan manusia harus dinilai dan diukur dengan kehidupan praktis. Maka suatu teori dikatakan benar jika berfungsi praktis bagi kehidupan manusia.
Tidak ada kebenaran  mutlak dalam pragmatisme. Sehingga tidak ada kesadaran dan tujuan hidup diatas sebuah kebenaran yang mutlak. Kebenaran tidak terletak di luar dirinya, tetapi manusialah yang menciptakan kebenaran. Sedangkan dalam Kekristenan, kebenaran mutlak ada di luar dirinya yang hanya dapat dimengerti oleh manusia jika Tuhan pencipta yang mewahyukan. Wahyu Tuhan dinyatakan di dalam Alkitab yang diyakini orang Kristen sebagai kebenaran absolut (2 Tim 3: 16-17).
Perbedaan-perbedaan yang sangat mendasar tersebutlah yang membangun atau yang menjadi patokan saat memandang siswa, peran guru, isi kurikulum, metode pengajaran, dsb. (dapat dilihat lebih jelas dalam tabel perbedaan pragmatis dan Kekristenan). Sehingga jika kita memegang pragmatismeee, pendidikan tidak akan memiliki tujuan yang jelas karena bersifat sangat relative dan pendidikan akan menjauhkan siswa dari kebenaran bahwa mereka adalah warga kerajaan Allah.
Tabel. Perbedaan Pandangan Pragmatisme dan Pandangan Kristen
Pandangan mengenai
Perbedaan
Pandangan Pragmatisme
Pandangan Kristen
Realitas
Pragmatis berpandangan bahwa realitas harus berdasarkan pengalaman. Seseorang mengetahui tetang materi hanya saat mereka merasakannya dan merefleksikan pengalaman dengan akal budi (rasio).
Tuhan adalah realitas sentral yang menjadi dasar atas segala sesuatu (Rom 1:20). Segala sesuatu ada karena Allah ada
Kebenaran
Sebuah pernyataan diklaim sebagai benar jika dapat diuji dengan pengalaman. Sehingga pandangan ini tidak mengakui kebenaran absolut.
kebenaran mutlak ada di luar dirinya yang hanya dapat dimengerti oleh manusia jika Tuhan pencipta yang mewahyukan. Wahyu Tuhan dinyatakan di dalam Alkitab yang menjadi kebenaran mutlak.
Pengetahuan
Pengetahuan manusia harus dinilai dan diukur dengan kehidupan praktis. Maka suatu teori dikatakan benar jika berfungsi praktis bagi kehidupan manusia.

Allah adalah sumber dari pengetahuan. (Amsal 1:7). Segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Manusia tidak pernah menciptakan sesuatu. Manusia hanya menemukan hal-hal yang Tuhan nyatakan.
Tujuan pendidikan
Pendidikan bertujuan untuk menumbuhkan anak menjadi manusia yang mandiri, bertanggung-jawab, dan dapat memecahkan persoalan hidupnya sendiri.
Pendidikan sebagai pewujudan dalam usaha pengembalian gambar dan rupa Allah dalam murid dan rekonsiliasi murid dengan Tuhan melalui Kristus.
Guru
Guru sebagai fasilitator dan motivator. Guru berperan aktif menciptakan lingkungan belajar yang aktif (John Dewey)
Guru adalah agen rekonsiliasi. Guru tidak hanya sekedar memberi informasi atau menjadi fasilitator untuk membuat siswa mampu bermasyarakat, dll.
Murid
Murid mengetahui tentang materi saat mereka merasakan dan merefleksikan pengalaman dengan akal budi mereka.
Murid belajar untuk mengontrol tindakan sendiri. Mereka belajar untuk memiliki pengaruh yang kuat dalam komunitasnya, dan dapat berpartisipasi dalam setiap kesempatan yang ada. Orang yang sudah terdidik bertumbuh dengan cara seperti ini, dan pertumbuhan itu bergantung pada lingkungan baik yang diberikan.
Pendidik Kristen menyadari bahwa tiap murid adalah warga kerajaan Allah. Namun pendidik juga harus ingat bahwa apa yang ada terlihat dari perilaku luar siswa, inti permasalah sesungguhnya adalah dosa yang membuat image of God rusak namun tidak hilang. (Kej 3; 9:6)
Oleh karena itu guru harus mengakui dan menghormati individualitas, keunikan dan harga diri setiap anak karena mereka diciptakan oleh Tuhan yang adalah Pribadi agung,
Metode pengajaran
metode pengajaran yang diterapkan pun metode yang membuat siswa aktif belajar dan semua materi harus berdasarkan fakta-fakta.
Siswa bekerja dalam kelompok, dan mereka menghadapi berbagai masalah tentang jenis-jenis skema alokasi yang digunakan
Metode pengajaran haruslah mempertimbangkan etika Kristen yaitu menebus (mengembalikan hubungan-hubungan yang rusak karena dosa kepada keutuhan saat mereka diciptakan). Metode yang mengembangkan hidup yang seperti Kristus (George R Knight)
Kurikulum
Kurikulum pendidikan pragmatis berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. Minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum karena guru menyesuaikan bahan ajar sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Semua subyek berdasarkan hubungan pada eksistensi dan tujuan dari Tuhan-pencipta (George R. Knight).
Mengintegrasikan detil-detil pengetahuan dengan kebenaran Firman Tuhan. Karena segala kebenaran adalah kebenaran Allah.


REFERENSI
            Knight, George R. 2009. Filsafat & Pendidikan: Sebuah Pendahuluan dari Perspektif Kristen. Jakarta: Universitas Pelita Harapan Press




Tidak ada komentar :

Posting Komentar